Senin, 22 Desember 2014

Dunia Anak adalah Bermain atau Belajar?


Anak perlu difasilitasi untuk bermain, karena memang demikianlah tuntutan jiwa mereka untuk menuju arah kemajuan hidup jasmani maupun rohani.”
(Ki Hajar Dewantara)

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bermain didefinisikan sebagai melakukan sesuatu untuk bersenang-senang. Apa pun tindakan, metode, cara, atau jenisnya jika hal tersebut dilakukan untuk menyenangkan diri, dapat disebut “bermain”. Pertanyaannya kemudian adalah, mengapa menyenangkan? Karena dalam bermain tak ada unsur keterpaksaan, personel dalam permainan dituntut untuk melakukannya secara sukarela, bahkan untuk sebuah hukuman bagi yang kalah bermain.
Jangan lupa memberikan waktu kepada anak Anda untuk bermain. Pada masa anak-anak, bermain merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan dan cenderung merupakan kebutuhan yang hakiki. Bahkan, para ahli pendidikan mengatakan bahwa anak-anak identik dengan bermain karena hampir semua hidupnya tidak lepas dari bermain.
Banyak manfaat yang akan didapatkan dalam sebuah permainan. Masing-masing permainan memiliki kebermanfaatannya sesuai dengan jenis, metode, dan caranya. Namun secara umum, kebermanfaatan bermain dapat disimpulkasn sebagai berikut:

1.      Aspek Fisik
Bermain membutuhkan fisik yang sehat untuk melakukan banyak gerakan. Gerakan-gerakan tersebut akan memiliki fungsi yang sama dengan olahraga yang kemudian membentuk tubuh menjadi sehat.
2.      Aspek Perkembangan Motorik Kasar dan Halus
Pada aspek ini, anak akan belajar membuat keputusan dan menyiasati suatu permainan. Hal ini akan memunculkan kecerdasannya yang akan berimplikasi pada keterampilan anak.
3.      Aspek Sosial
Anak akan belajar untuk berinteraksi dengan orang lain, menjalin hubungan dengan teman sebaya, belajar berbagi, mempertahankan hubungan, memecahkan masalah, bahkan juga belajar berpisah dari ibu atau pengasuhnya.
4.      Aspek Bahasa
Aspek bahasa disini adalah keterampilan anak dalam melakukan komunikasi verbal dan sosial. Komunikasi verbal akan memberikan masukan kepada anak tentang kosakata yang belum dimiliki dari teman bermain tanpa dan atau disadari. Sementara, komunikasi sosial membentuknya menjadi anak yang mudah bergaul dan memiliki banyak teman.
5.      Aspek Emosi dan Kepribadian
Melalui bermain, anak memiliki rasa percaya diri dan merasa dihargai. Anak akan berusaha melepaskan ketegangan yang dialaminya melalui permainan yang dilakukannya.

Membahas tentang anak dan bermain. Ada yang menyatakan bahwasanya, pada usia 0 sampai 10 tahun adalah usia anak untuk bermain. Namun bukan berarti anak tidak diperbolehkan belajar. Anak tetap diarahkan untuk belajar namun harus proporsional. Jika otak anak terus dikejar dengan dengan teori-teori, anak akan merasa bosan dan pada akhirnya menjadikan belajar sebagai sebuah kewajiban semata, bukan kebutuhannya. Namun apabila proses belajar dikembangkan metodenya dengan cara yang menyenangkan hampir seperti bermain maka tentunya anak akan semangat belajar dan memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap apa yang ia lihat, dengar, baca, ataupun apa yang ia praktikkan. Selanjutnya proses belajar akan berkembang alami sesuai dengan minat dan potensi yang dimiliki anak. (Oki/”GMPrivat”)


Sumber Rujukan:
Thobroni, M. dan Mumtaz Fairuzul. 2011. Mendongkrak Kecerdasan Anak Melalui Bermain dan Permainan. Kata Hati: Jogjakarta.



Representative Office:
Les Privat Bandung
Growth Mindset Private (GMPrivat)
Jl. Terusan Kopo km.14. Komp. Gandasoli Indah C.21, Bandung 40971
Telp/SMS : 0852 943 50 600
Line ID : gmprivat
WhatsApp : 0852 943 50 600 ( klik disini untuk chat langsung dg CS )
Email : privategrowthmindset@gmail.com
Instagram : @eduquotes
Facebook : growthmindsetprivat


Twitter Delicious Facebook Stumbleupon Favorites More