Senin, 29 Desember 2014

Sekolah Untuk Orang Tua

Karya: Lufti Noorfitryani (Defit)

“Celakalah suatu kaum, jika mereka menyerahkan urusan kepada yang bukan ahlinya” begitulah sabda Rasulullah SAW , bagi saya kutipan ini berperan besar terhadap berdirinya sekolah-sekolah formal ataupun informal yang saat ini ada. Memaknai sekolah sebagai tempat belajar memang benar adanya, namun lebih dari itu, sekolah adalah tempat untuk berkembang. Melalui sekolah, kita berkembang secara kognisi, emosional, sosial,  mental, spritual juga mengembangkan keterampilan atau keahlian khusus. Maka dari itu untuk menjadi ahli dalam suatu hal, diperlukan belajar dan sekolah ada untuk memfasilitasi kegiatan belajar tersebut.
Untuk menjadi seorang arsitek, diperlukan keahlian dan ada sekolah untuk mempersiapkan orang menjadi arsitek, begitupun untuk menjadi dokter atau guru, atau menjadi ilmuwan dan apoteker yang memiliki sekolah sendiri untuk menyiapkannya. Lalu bagaimana dengan orang tua? Sepertinya tidak ada sekolah untuk menjadi orang tua, padahal menjadi orang tua membutuhkan keahlian yang sangat penting!
Karena tidak ada sekolah formal untuk orang tua, itu tidak berarti para orang tua bisa merasa atau berfikir wajar dan maklum dalam mendidik anak “seadanya”. Tanpa disadari, sekolah untuk orang tua bukanlah sekolah formal, tempat dimana belajar semua teori atau percobaan praktek mendidik anak. Sekolah untuk orang tua ternyata bersifat informal, sekolah untuk orang tua adalah ANAK mereka sendiri. Supaya dramatis, biar saya ulang, ANAK adalah sekolah bagi ORANG TUA.
Tanpa disadari semenjak dinyatakan sah sebagai sepasang suami istri, sekolah menjadi orang tua sudah dimulai. Seperti sebelum memasuki sekolah formal, anak-anak biasanya ikut play group atau taman kanak-kanak atau PAUD. Mungkin bagi pasangan yang baru menikah ini semacam pendidikan orang tua dini. Kegiatan di PAUD  adalah persiapan bagi anak, penanaman kebiasaan dan penyesuaian diri  dengan tugas-tugas di sekolah dasar. Bagi orang tua pun begitu, sebelum diberi kepercayaan oleh Allah untuk memiliki anak, kurikulumnya adalah persiapan dan penyesuaian diri. Penyesuaian diri dengan peran baru sebagai suami-istri, penyesuaian dengan gaya hidup pasangan, dengan karakter pasangan. Di PAUD ada anak yang bisa menyesuaikan diri dengan cepat ada juga yang tidak. Bagi mereka yang penyesuaian diri dan tugas-tugasnya cepat, maka peluang masuk sekolah ke jenjang yang lebih tinggi pun akan terbuka. Begitupun orang tua yang penyesuaian dan kematangannya sudah baik, Allah tanpa segan memberikan kepercayaan untuk memiliki anak.
Anak sebagai sekolah bagi orang tuanya, sebagaimana sekolah biasanya tentu banyak pelajaran-pelajaran yang harus dipelajari dan ada ujian untuk memastikan apakah kita berhasil menguasai mata pelajaran tertentu. Subhanallah, Allah menciptakan seorang anak sebagai sekolah bagi orang tuanya, tempat kita belajar banyak hal dan bahkan mendapat ujian.  Jika di analogikan dengan anak yang sulit makan, mungkin jika di sekolah ini adalah pelajaran matematika yang semua orang tentu saja mengalami kesulitan mempelajarinya. Siswa dituntut untuk kreatif dengan belajar dari berbagai sumber, sharing dengan teman, minta diajari orang tua/kakak dan yang utamanya adalah berlatih terus menerus untuk mengerjakan soal. Jika menghadapi anak yang sulit makan, orang tua dituntut untuk kreatif, dengan cara merayu anak, atau mengakalinya dengan makanan yang bervariasi, atau meminta tips kepada orang tua kita, atau berbagi cerita dengan orang tua lain. Pada akhirnya orang tua harus terus menerus berlatih dalam menciptakan resep baru atau jurus agar dapat membuat anak tidak sulit makan. Begitupun anak yang sulit belajar, atau sulit jika diminta mandi atau jika diminta berekspresi, bercerita dan masih banyak lagi yang jika dianalogikan kepada pelajaran, kita seperti menghadapi pelajaran yang sulit.
Terkadang kita benci dengan sekolah karena pelajarannya sulit, sama dengan menghadapi anak, terkadang kita dibuatnya kesal dan lelah. Hal itu wajar saja terjadi, namun seperti yang kita tahu bahwa mereka yang sukses di sekolah adalah mereka yang mau bekerja lebih keras, berkorban lebih hebat dan mengerjakan lebih banyak. Begitupun jika kita ingin menjadi orang tua yang sukses, kita perlu bekerja lebih keras, berkorban lebih hebat dan mengerjakan hal lebih banyak untuk anak kita.
Seperti yang sudah ditulis di awal, bahwa sekolah merupakan tempat berkembang, tidak secara kognisi saja namun sosial, emosional, spiritual, mental dan keahlian khusus. Melalui anak, orang tua kembali menjadi siswa, yang belajar hal baru, dan kembali menantang dirinya untuk semakin matang dalam berbagai aspek. Ujian di sekolah akan terasa mudah bagi siswa yang rajin tetapi akan terasa neraka bagi siswa yang malas, konflik di sekolah akan terasa mudah dihadapi dan diselesaikan bagi siswa yang mandiri dan matang secara fikiran dan emosional, tetapi akan membuat tidak nyaman dan mengesalkan bagi siswa yang senang melarikan diri, kurang sabar, masih kekanakan dan tidak dewasa. Begitupun dengan sekolah bagi orang tua, anak-anak dengan perilaku istimewa dan spesial tentu akan berat dihadapi oleh orang tua yang tidak mau mencoba lebih keras dan mudah menyerah, namun akan menjadi suatu yang menantang dan memotivasi untuk belajar lebih banyak bagi orang tua yang ingin menjadi orang tua yang hebat. Seperti itulah.
Hidup adalah pilihan, apakah anda ingin jadi orang tua yang hebat dan berprestasi? Atau hanya ingin menjadi orang tua yang lulus dengan nilai biasa saja, ingin tinggal kelas atau bahkan tidak lulus sekolah? Wah jangan sampai ya bapak dan ibu..


Representative Office:
Les Privat Bandung
Growth Mindset Private (GMPrivat)
Jl. Terusan Kopo km.14. Komp. Gandasoli Indah C.21, Bandung 40971
Telp/SMS : 0852 943 50 600
Line ID : gmprivat
WhatsApp : 0852 943 50 600 ( klik disini untuk chat langsung dg CS )

Email : privategrowthmindset@gmail.com
Instagram : @eduquotes
Facebook : growthmindsetprivat
www.gmprivat.com

Twitter Delicious Facebook Stumbleupon Favorites More