Minggu, 01 Maret 2015

Pendidikan Waldorf : Sense by Good, Beauty and Truth



Ditulis Oleh : Lufti Noorfitryani (@defit)


Mendongeng adalah aktivitas yang menyenangkan, lewat mendongeng  kita bisa menggurui tanpa merasa digurui, bisa menasehati tanpa merasa menceramahi, bahkan kita juga bisa mencipta, berimajinasi, menggila dan berkhayal liar. Melalui dunia perdongengan inilah menjadi awal perkenalan saya dengan pendidikan Waldorf. Saat festival dongeng digelar di Bandung pada awal September 2014 saya merasa bersemangat untuk menghadiri acara tersebut. Menyenangkan sekali bisa hadir di sana dan menikmati kegiatan-kegiatan dongeng serta seni yang diadakan oleh penyelenggara. Tak ketinggalan sebagai kenang-kenangan saya membeli satu buku dari Studi Grup Diagonal “The Golden Surprise : Kumpulan Dongeng dan Puisi Anak”, pada pengantarnya mereka menjelaskan sedikit mengenai pendidikan Waldorf, rasa penasaran pun datang akhirnya baca sana- baca sini, dan merasa beruntung karena bisa mengikuti kegiatan Bicang Edukasi yang membahas tentang pendidikan Waldorf akhirnya saya bisa berbagi melalui tulisan ini.

Dalam persepsi penulis pendidikan Waldorf merupakan salah satu pendidikan dengan pendekatan holistik, dalam proses belajarnya menekankan kepada rasa nyaman, keindahan, eksplorasi dan kegiatan yang menyenangkan.  Pendidikan Waldorf juga mencoba memberikan pendidikan secara utuh, maksudnya tidak seperti sekolah biasa yang hanya berfokus kepada pengembangan “Head” saja, pendidikan Waldorf didasari atas pemahaman yang dalam terhadap perkembangan individu, kepada kebutuhan anak yang sedang berkembang, maka dari itu metode pendidikannya adalah menyulap pendidikan menjadi suatu seni yang mendidik anak secara utuh, baik itu “Heart and the hands, as well as the head”. Seni adalah yang kita ciptakan dengan hati, fikiran, indera dan tangan kita, inilah mengapa pendidikan Waldorf menjadi spesial. Metodenya lewat pengalaman langsung, mendongeng, mencipta, meniru, olah gerak, mengamati, dan masih ada beberapa metode lainnya.

Pendidikan Waldorf ini tidak tiba-tiba muncul, tapi digagas oleh Rudolf Steiner, seorang filsuf asal Austria pada tahun 1919 (Wikipedia). Dalam pendidikan Waldorf, musik, tarian, teater, menulis, literatur, legenda, mitos, dan lain-lain bukanlah sekedar hal yang dibaca, dicerna lalu diuji, tetapi dialami. Melalu pengalaman inilah siswa menanamkan kecintaan mengenai belajar sekaligus juga akan mengembangkan kapasitas dalam aspek intelektual, emosional, fisik dan spiritual sebagai manusia . menurut Henry Barnef  ketua asosiasi sekolah Waldorf di Amerika Utara, menyatakan bahwa “Ketika anak bisa menghubungkan apa yang mereka pelajari dengan apa yang mereka alami, mereka akan merasa tertarik dan bersemangat, pada akhirnya mereka akan merasa memiliki pengetahuan terhadap apa yang mereka pelajari”. Waldorf menekankan kepada penghargaan atas “inner enthusiasm” pada setiap anak, dan ini harus digali dan dikembangkan, karena akan menanamkan prinsip pada anak bahwa belajar itu menyenangkan karena saya menyukainya , sehingga motivasi belajar timbul dengan sendirinya dalam diri anak tanpa ada embel-embel memenangkan kompetisi persaingan akademik, atau demi mendapat rewards.

Dari yang saya pelajari, pendidikan Waldorf ini membagi perkembangan menjadi tiga tahap, yaitu 0-7 tahun; kemudian 7-14; dan terakhir 14-21. Terdapat 12 senses pada individu yang saling berkaitan satu sama lain yang harus dioptimalkan perkembangannya. Ke-12 senses itu antara lain touch; life; movement; balance; smell; taste; sight; warmth; hearing; word; thought; dan ego. Senses tersebut dibagi kedalam dua, lower senses dan higher senses, lower senses yang optimal dan stimulasi akan juga mengoptimalkan higher sensesnya. Sekarang mengapa ada anak yang cuek dan tidak peduli terhadap lingkungan sekitarnya (lack sense of warmth) mungkin itu terjadi karena lower sense hear dan word nya kurang optimal. Bisa jadi saat kecil, dia tidak terbiasa mendengar sapaan yang baik atau tidak terbiasa menyapa dan bercerita tentang diri dan lingkungannya, itulah mengapa timbul lack sense of warmth.

Ada juga kasus anak yang tidak senang berolahraga atau kaku dan sulit berolahraga, itu juga bisa dipengaruhi oleh lower sense yang kurang optimal. Dalam pendidikan Waldorf, lower sense distimulasi dan dioptimalkan sehingga anak bisa berkembang secara utuh dan optimal. Salah satu yang saya ikut praktekkan adalah melatih lower sense balance untuk mempertajam higher sense pada movement menggunakan “beanbag” yang dilempar ke depan, ke belakang, ke atas, awalnya beanbag dilempar sambil kita diam, namun lama-lama beanbag itu harus dilempar sambil berjalan, sambil mundur, sambil berjalan dan bernyanyi, sambil berjalan dan bercerita. Seru sekali karena semua sense kita saat itu belajar berkoordinasi dan menciptakan keseimbangan. Terakhir pelajaran berharga yang diberikan oleh Mbak Kenny seorang penggiat pendidikan Waldorf membeberkan kunci pendidikan Waldorf yaitu :

-          Usia anak 0 – 7 dalam perkembangan dan belajarnya cenderung MENIRU, maka berikanlah contoh dan hal yang BAIK (Good).

-          Usia anak 7 – 14 yang sudah berfikir abstrak dan IMAJINASI nya sangat berkembang, maka berikanlah dan tunjukkanlah hal yang INDAH (Beauty).

-          Usia anak 14 – 21 sudah berfikir kritis, di masa ini perkembangan JUDGEMENT nya sangat penting dan menonjol, maka berikan dan tunjukkan KEBENARAN (Truth).

Bagaimana tertarik dengan pendidikan Waldorf dengan metode dan pendekatan istimewanya? Pendidikan terutama PAUD atau sekolah-sekolah dengan konsep kreatif sepertinya bisa nih menerapkan pendidikan Waldorf sebagai pendekatan baru dalam kurikulum atau proses belajar.


Representative Office:
Les Privat Bandung
Growth Mindset Private (GMPrivat)
Jl. Terusan Kopo km.14. Komp. Gandasoli Indah C.21, Bandung 40971
Telp/SMS : 0852 943 50 600
Line ID : gmprivat
WhatsApp : 0852 943 50 600 ( klik disini untuk chat langsung dg CS )

Email : privategrowthmindset@gmail.com
Instagram : @eduquotes
Facebook : growthmindsetprivat
www.gmprivat.com

0 komentar:

Twitter Delicious Facebook Stumbleupon Favorites More